Arti Ulos Bagi Orang Batak. Menurut pandangan orang batak, ada tiga sumber kehangatan bagi manusia yakni matahari, api dan ulos.
Mungkin tidak mengherankan bagi kita jika matahari dan api adalah sumber
panas untuk menghangatkan tubuh. Tetapi bagaimana dengan Ulos? Pasti banyak orang mempertanyakan ini.
Munculnya pandangan orang-orang Batak bahwa kain ulos merupakan
sumber kehangatan dan panas bagi tubuh dikarenakan letak geografis
tempat tinggal orang batak yang terletak di pegunungan yang memiliki
iklim tropis.Sehingga cahaya matahari tidak cukup panas untuk
menghangatkan tubuh apalagi saat malam hari tiba. Selain memberikan
kehangatan ulos
ini juga dipercaya membentuk seorang lelaki berjiwa keras, mempunyai
sifat kejantanan dan kepahlawanan dan bagi perempuan mempunyai sifat
ketahanan.
Namun seiring perkembangan waktu, ulos batak ini digunakan bukan hanya
sekedar penghangat tubuh semata tetapi berkembang menjadi lambang ikatan
kasih, pelengkap upacara adat dan simbol sistem sosial masyarakat
Batak. Dan juga dipercaya mengandung magis atau keramat serta memiliki
daya istimewa untuk memberikan perlindungan bagi pemakainya.
Jenis dan Motif ulos memiliki makna tersendiri. Tergantung
dari sifat, keadaan, fungsi dan hubungan tertentu. Dan juga kapan
digunakan, diberikan kepada siapa dan dalam upacara adat apa. Dan pada
saat upacara adat baik itu pernikahan , kelahiran dan kematian tidak
pernah ketinggalan dengan yang namanya penggunaan ulos batak ini.
Jika kain dipakai oleh laki-laki, bagian atasnya disebut ande-hande dan
bagian bawahnya disebut singkot. sebagai penutup kepala disebut
tali-tali, bulang-bulang, sabe-sabe atau detar. Dan Jika ulos dipakai
oleh perempuan batak Toba, bagian bawah disebut ampe-ampe. apabila
digunakan sebagai penutup kepala disebut saoing, dan untuk menggendong
anak disebut parompa.
Adapun cara pemakaian ulos meliputi siabithononton(dipakai).Ulos
yang dipakai meliputi: ragidup, sibolang, djobit, simarindjamisi, dan
ragi pangko. Selanjutnya Sihadanghononton (Dililitkan di kepala atau
bisa juga di jinjing). Ulos yang dililit di kepala
meliputi: sirara, sumbat, bolean, mangiring, surisuri dan sadum. Yang
terakhir sitalitalihononton (dililit dipinggang) yang meliputi tumtuman,
mangiring, dan padangrusa.
Ulos pada pemakaian yang tepat bukan saja melambangkan
keserasian dalam berpakaian tetapi juga berkaitan pada makna-makna
filosofis yang dikandung oleh ulos
tersebut. Dengan demikian ulos tidak hanya berfungsi sebagai penghangat
dan lambang kasih sayang, melainkan juga sebagai simbol status sosial,
alat komunikasi, dan lambang solidaritas.
(sumber gambar: tanobatak.wordpress.com)












